Little thing called Friendship.

20120813-205923.jpg

Dina sent this note to me. And i cried a lot.

Dina, maaf karena buat kamu menangis. Maaf karena buat kamu marah atas sikap aku yang memang selalu kurang ajar. Itu semua karena aku terlalu sayang sama kamu. Dan sekaligus iri sama kamu. Kamu gak betapa aku sangat sangat mengkhawatirkan kamu karena kamu bakal pergi sendiri dengan org org dewasa yang kamu sendiri gak kenal. Aku takut kamu kesepian. Aku takut kamu tersisihkan. Aku takut kamu nantinya gak ada teman buat ngobrol. Aku iri sama kamu yang hisa menang hadiah itu. Aku iri kamu bakal pergi ke korea. Dan ninggalin aku. Aku iri karena kamu bakal ngeliat ke Korea duluan. Tanpa aku ada di samping kamu. Aku iri karena kamu selalu mendapatkan apapun tanpa kesulitan yang begitu berarti.

Terima kasih karena kamu masih mau jadi temen aku. Terima kasih karena kamu sudah menggagap aku sbg teman kamu. Kamu satusatunya teman yang bisa menyeimbangi aku. Aku yang ceroboh. Aku yang bodoh. Aku yang seenak jidat. Aku yang kayak gini. Aduh, aku gak pinter dalam ngungkin katakata. Tapi aku harap kita bakal tetep bersahabat sampai akhir hayat.

I Love You.

(maaf balesnya pake bhs indo. Tangan keriting kalau nulis bahas bule)

Maaf :”

Maaf karena nulis postingan ini, Din.

Aku tau Dina pasti ke Korea. Tahun ini. Tanpa aku. Dan ternyata emang bener. Kejadiannya cepet banget. Aku tau CK bikin kuis yang hadiahnya gratis ke Korea. Tapi aku mutusin gak ikutan karena aku tau aku gak pernah beruntung ikutan kuis. Apalagi yang cara pemilihannya berdasarkan vote. Dan lagi, kalau aku memang menang aku gak bakal ke Korea tanpa Dina. Seriously i won’t. Dina ikutan kuis itu. Dan aku tau dia bakal menang. Aku tau biarpun dia bilang dia bakal kalah dan gak ngurusin lombanya, dia selalu berusaha untuk menang. Itulah Dina.

Dina…….tanpa kuispun dia bisa ke Korea kapan aja. Tinggal bilang ke mama papanya pasti dengan sangat senang mereka penuhi. Tapi Dina gak mau. Dia gak biasa nyusahin orang tuanya.

Dina beda sama aku. Dina pinter. Lomba aja yang dia ikutin selalu menang. Kalau aku…yang aku bisa cuma nari. Hidupku 90% kenangannya karena aku nari. Tapi, semenjak ada Dina aku udah gak pede lagi nari karena kata orang tarian Dina lebih energik. Lagilagi aku kalah telak.

Aku gak pernah merasa tersaingi sama Dina. Dia temenku yang paling berharga. Bersamanya pasti ada aja kejadian seru. Aku bangga punya dia. 3 tahun terakhir hidupku pasti dipenuhi sama Dina. Iya, kita kayak gak terpisahkan gitu deh.

Oh ya, balik lagi ke masalah kuis. Dina emang gak menang juara pertama. Tapi karena pemenang kesatu gak bisa ke Korea jadi hadiah jatuh ke tangan dia. Dan entah kenapa walaupun Dina bilang dia masih ragu buat ambil hadiah itu, aku tau dia pasti akan ambil. I know her so well. 3 tahun temenan sama dia bukan hal sulit buat tau sifat dia. Aku tau aku bakal iri seiri irinya sama dia. Tapi aku pasti bakal nyuruh dia buat ambil hadiah itu.

Udah aku bilang kan, aku sama Dina itu beda. Aku blak-blakan sedangkan Dina lebih nyimpen perasaannya. Dina, tanpa aku pasti bisa ke Korea. Tapi aku tanpa Dina gak akan bisa. Dulu Icha sama aku pernah sepakat, kalau kita gak bakal pergi ke Korea kalau salah satu dari kelompok kita yang gak bisa ikut. Gratis sekalipun. Alasannya karena kebersamaan. Kita gak bakal tega ninggalin temen kita. Tapi Dina beda. Menurut dia mendingan yang bisa ikut pergi ke Korea, yang gak bisa yaudah. Sayang kalau hadiah gratisannya angus. Dina emang banci kuis.

Dina cuma bilang, hadiah ke Korea jatuh ke tangan dia. Dia gak pernah sekalipun bilang kalau dia udah bikin surat permohonan Visa. Iya, aku stalker bisa tau sendiri haha. Sampe akhirnya dia bilang dan aku cuma sok sok kaget. Aktingku bagus. Satu lagi, Dina juga gak bilang kalau dia perpanjang harinya di Korea. Dina gak pernah bilang. Padahal aku selalu cerita ke dia. Dari aku bete sama ajeng sama icha sampe aku baru dibeliin barang barang baru. Ini gak adil.

Jadi selama ini yang ketergantungan sama Dina cuma aku. Dina sama sekali gak membutuhkan aku. Gak perlu pendapatku. Karena semuanya bisa dia atesin sendiri. Ya, tapi bagaimanapun aku belum bisa tanpa Dina. Aku selalu ngambil keputusan tanpa pikir panjang jadi aku masih butuh Dina buat ngelurusin pikiran aku. Walaupun mungkin mulai sekarang semuanya gak bakal sama lagi.

Selamat buat Dina karena mau ke Korea. Aku tau kamu gak mau kalau dititipin macem macem. Jadi, aku cuma minta foto-foto Korea. I just want to know. Aku seneng banget kamu bisa kesana. Walau kita gak bareng. Liat aja nanti. Aku bakal ke Korea. Dan aku yakin kamu pasti iri. Karena mungkin aku ke Korea sama temen Kpop aku yang lain. Haha bercanda. Aku gak bakal ngekpop di korea tanpamu. Gak bakal.

Maaf aku cuma mau ngeekspresiin perasaan aku din. Gak bermaksud apa-apa. Sumpah. Makasih buat semuanya. Kita tetap temen cover dance bareng. Tetep temen ngegila bareng. Semuanya bareng kalau kita diharuskan bareng.

이 세상 하나뿐인 친구야, 나의 기쁨 나의 영혼, 사랑해 친구야 :*

Love you.

Neoneun Byeol – Part 2

20120620-124332.jpg

Author : Pramaythessa
Main Cast : EXO Kim Jongin (Kai) , Park Hyeri (OC), EXO Oh Sehun (Sehun), Kim Yoora
Support Casts : EXO Members and Another OC
Length : Sequel
Genre : Romance
Rating : Teenager

(a/n : Ah, maaf part 2nya baru bisa di post. sibuk latihan dance nih jadi gak sempet ngedit. part 3nya juga sabar ya nunggunya. abis aku bakal sibuk lagi latihan jadi butuh waktu lama untuk nulisnya. maaf kalau part kali ini kurang memuaskan. selamat membacaa^^ ditunggu komenya)

Author POV

“Annyeong Haseyo, Jeoneun Park Hyeri imnida. Indonesia eseo watseumnida. Bangapsumnida. Mohon bantuannya” Ucap Hyeri lantang. dia tidak pernah kesulitan memperkenalkan dirinya. Tapi, sudah lama ia tidak menggunakan bahasa Korea. Dia merasa sedikit aneh tapi yasudahlah. Semoga pemilihan kata formal yang ia ucapkan tidak salah.

“Ini teman baru kalian, tolong di bantu ya,” tambah Jinsung Ssaem, “nah, Hyeri ada dua bangku kosong. Silahkan duduk dimana pun kamu mau.

Hyeri mengedarkan pandangannya. Kemudian tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang duduk di barisan ketiga dari depan. Laki-laki itu menatap keluar jendela sambil memangku dagunya. Matahari pagi menerpanya sehingga bayangannya sedikit kabur. Hyeri terpesona melihat pemandangan itu.

‘Mungkinkah dia laki-laki yang kemarin?’ tanya Hyeri dalam hati. Kalau benar, untuk kedua kalinya laki-laki itu membuatnya terpesona.

“Hyeri-ssi!” satu suara mengagetkannya dari lamunannya. Suara itu rupanya milik…….Sehun-ssi? Rupanya mereka sekelas. “Duduk disini saja, bangku ini kosong,” lanjut Sehun

Hyeri melirik laki-laki yang tadi dan melihat tempat duduk disamping Sehun yang letaknya dibarisan keempat, dua meja dari tempat duduk si cowok itu. Sebenarnya di belakang bangku cowok itu kosong. Tapi, kalau dari tempat duduk di samping Sehun…

Hyeri pun berjalan ke arah Sehun. Lalu menghempaskan badannya di bangku. Tepat! Dari tempat duduk ini Hyeri bisa melihat cowok itu dengan leluasa tanpa takut ketahuan.

“Hyeri-ssi masih ingat padaku tidak?” Sehun membuka pembicaraan. Hyeri mengalihkan pandangannya ke Sehun.

“Sehun-ssi kan? Yang kemarin tak sengaja kutabrak?” balas Hyeri. Dia kemudian membetulkan letak duduknya dan mulai mengeluarkan binder.

“Ah, masih ingat rupanya. Kukira sudah lupa. Senang bisa sekelas denganmu,” Sehun memamerkan senyum mautnya.

“Aku juga senang bisa sekelas denganmu. Kukira aku akan kesulitan mendapatkan,” Hyeri pun membalas senyuman Sehun. Sehun seketika salah tingkah. Kenapa bisa dia yang

Jinsung Ssaem tiba-tiba berdeham, “Sehun-ssi pelajaran akan segera dimulai. Jangan mengajak anak baru berbicara terus. Dan Jongin-ssi, tolong istirahat pertama nanti antarkan Hyeri mengelilingi sekolah dan beri tahu dia kelas-kelas yang harus dituju ketika pergantian

“Kenapa harus aku sih? Dia bisa mengelilingi sekolah sendiri,” sergah anak yang bernama Jongin itu. Ah, namanya Jongin. Laki-laki yang membuatnya terpesona itu…namanya unik.
Mendengar penolakan itu, Jinsung Ssaem menatap Jongin tajam,”Kau ini ketua kelas, mengantarkan anak baru mengelilingi sekolah saja masa tidak mau. Apa susahnya sih?”

Hyeri yang tidak enak melihat suasana itu pun angkat suara, “Jinsung Ssaem, aku bisa sendiri kok.”
“Aku bisa mengantar Hyeri kalau Ssaem mau. Hitung-hitung sebagai tanda penyesalanku karena kemarin tertidur di kelas Matematika Ssaem” Sehun ikut meleraikan.

Jinsung Ssaem menghela napas, Muridnya yang bernama Jongin itu memang tidak bisa di lawan. Biarpun kelakuannya seenaknya sendiri anak itu sangat pintar. Nilainya selelu mendekati sempurna di setiap mata pelajaran. Anak itu sangat di harapkan untul menaikan derajat sekolah ini.

Jinsung Ssaem pun mulai membuka buku “Yasudah, mari kita mulai pelajaran hari ini.”

***

“Sudah siap mengelilingi sekolah Hyeri-ssi?” ucap Sehun sambil berdiri dan merapikan blazer sekolahnya.

Hyeri mendongakan kepala “Sebenarnya kemarin aku sudah mengelilingi sekolah, jadi kau tidak perlu repot mengantarkan aku lagi”

“Oh begitu rupanya, kalau begitu mau ke kantin bersama?”

Kali ini Hyeri mengangguk. Mereka pun keluar kelas dan pergi ke kantin bersama. Hyeri sebenarnya belum benar-benar memutari sekolah ini. Hanya saja dengan seiring berjalannya waktu Hyeri pasti akan tahu sendiri letak-letak kelas yang akan dia gunakan.

“Sehun-ssi…”

“Hyeri-ssi, kau tidak perlu memanggilku secara formal begitu. Bukankah kita satu angkatan?” Sehun memotong pembicaraan.

Hyeri menoleh ke arah Sehun dan mengangguk-anggukan kepala. “Kalau begitu kau juga tidak perlu memanggilku Hyeri-ssi. Cukup Hyeri saja bagaimana?”

“Ok, Hyeri-ya kau juga cukup panggil aku Sehun atau Sehunnie. Itu nama panggilanku” terangnya.

Ditengah perjalanan, mereka berdua dihadang beberapa murid perempuan yang datang berbondong-bondong. Sehun kembali memamerkan senyum andalannya.

“Sehunnie, ini ada cookies buatmu”, “Sehunnie cobalah ini. Semoga kau suka” dan sebagainya. Membuat Hyeri mengutup mulu dan mengulum senyum. Namun, ketika mereka pergi, tawa Hyeri meledak.

“Ya, Hyeri-ya, kenapa ketawa seperti itu?” tanya Sehun di tengah kebingungannya.

“Ah, kau ini apa? Boys over flower? Kenapa banyak sekali yang memberimu bingkisan hahaha” Hyeri balik bertanya di sela tawanya

“Kau tak tahu aku ini cukup terkenal? Tidakkah kau lihat aku ini sangat tampan? F4 yang di TV itu saja kalah tampan” balas Sehun

“Tampan? Kau ini percaya diri juga ternyata. Apakah mereka tidak salah melihatmu ya?” hyeri mendelikan matanya.

“Mollayo, yang penting dengan begini aku bisa menghemat uang jajan. Kau mau? Sehun mencibir sambil menyodorkan cupcake ke arah Hyeri.

Hyeri mengambil cupcake itu dan mulai mencicipinya “Hm, mashita! Kamsahamnida Sehunnie”

“Cheonmaneyo, kau mau minum apa?” tanya Sehun sambil melihat-lihat menu di depannya. Hyeri melongokan kepalanya ikut melihat.

“Aku ice chocolate, kau?”

“Hm, lemon tea saja. Ajumma, minta ice chocolate satu dan lemon tea satu ya.”

“Ne, ditunggu ya. Ice chocolate 1.700 won dan lemon tea 1000 won. Totalnya 2.700 won” Sahut Ajumma itu.

Hyeri baru saja akan menyerahkan uangnya tapi Sehun sudah membayar minumannya dan membawa menuju bangku kosong di sudut ruangan.

“Sehun-a, igo..” Hyeri menyerahkan uang untuk mebayar minumannya tapi Sehun repot menengok pun tidak. Dia malah asik menyeruput lemon teanya sambil memakan chocolate yang diberikan sunbaenya tadi.

Hyeri mencibir sambil terus memaksa Sehun mengambil uangnya “Sehun-a, aku tidak ingin berhutang”

Sehun melirik Hyeri ‘Ini saatnya’ batinnya.

“Kau tak mau berhutang padaku?” Sehun memincingkan matanya jenaka sambil memainkan sedotan di hadapannya.

Hyeri menatap Sehun mantap lalu menanggukan kepalanya. Tiba-tiba Sehun mencondongkan badannya ke arah Hyeri dan menatapnya di manik mata sambil mengulum senyum. Hyeri menyipitkan matanya. Takut akan terjadi suatu hal yang tidak mengenakan.

“Kau harus berkencan denganku,” bisik Sehun.

Hyeri melongo, “MWO?!”

Teriakan Hyeri mengagetkan Sehun sekaligus membuat mereka di lihat oleh seluruh orang yang ada di kantin.

Sehun salah tingkah lalu membekap mulut Hyeri dan menariknya halus “Ya! kecilkan suaramu sedikit. Aku kan hanya mengajakmu kencan”. Hyeri menepis tangan Sehun dari mulutnya dan tertawa. “Kau pikir aku mau kencan denganmu? Ya, Sehun-a, turunkan sedikit kadar percaya dirimu”

Sehun menghela napas dan memasang wajah cemberut “Ah, padahal minggu depan kalau masuk ke Lotte World berpasangan mendapatkan discount khusus. Lumayan kan”

Hyeri mengerutkan keningnya “Discount khusus? Boleh juga. Lagian aku belum sempat kemana-mana selama di Korea”

Mata Sehun menatap Hyeri dengan binar-binar yang terlihat jelas, “Jinjjayo? kau mau kencan denganku? Yakso?”

“Ini bukan kencan Sehun-a. Kita hanya jalan-jalan biasa. Tidak ada yang spesial” balas Hyeri sambil berjalan keluar dari kantin. Sehun membuntutinya dari belakang sambil terus mengoceh.

“Yang penting kau mau jalan keluar denganku. Bukankah ini namanya date juga?”

Hyeri yang mendengar itu hanya bisa tertawa sambil berlalu.

***
Ini akibat dari ke-sok-tahuannya. Hyeri seharusnya sudah masuk kelas musik sejak 10 menit yang lalu. Tapi karena dia ke toilet, dia jadi ketinggalan. Murid yang lain sudah moving class terlebih dahulu begitu juga Sehun. Seharusnya tadi dia menerima tawaran Sehun untuk menunggunya.
Koridor sekolah sudah sepi. Ya jelas, pelajaran sudah dimulai dari beberapa menit yang lalu tapi sampai sekarang Hyeri masih kebingungan mencari papan bertuliskan ruang laboratorium biologi.

‘Mungkin aku sebaiknya kembali ke kelas’ pikirnya.

Sesampainya di kelas, Hyeri melihat seseorang yang pastinya sekelas dengannya. Jongin.

“Jongin-ssi?” dengan sedikit ragu Hyeri memanggil Jongin.

Yang di panggil menoleh lalu mengerutkan keningnya sedikit dan kembali sibuk dengan tasnya, “Ada apa?” balasnya. Hyeri mendengus jengkel.

“Bukankah tidak sopan jika tidak menghadap lawan bicaramu?”

“Kau tinggal katakan apa maumu, susah sekali,” Jongin tetap tidak berbalik.

Hyeri menyerah, “Ruang musik. Dimana ruang musiknya? Aku tidak bisa menemukannya”

Jongin berbalik dan berjalan mendahului Hyeri. Hyeri menghela napas dengan sedikit berlebihan. Menerpa poninya yang tertata rapi.

‘Aish orang ini, tak kusangka kelakuannya buruk sekali’

“Ya! Aku ini…” belum sempat Hyeri menyelesaikan kata-katanya, Jongin sudah menyela “ikuti aku”
Dan Hyeri pun lekas mengikuti Jongin. Langkah kaki Jongin sangat cepat sampai-sampai untuk mengikutinya saja susah.

‘Hhh, tenyata di lantai dua. Pantas saja aku cari tidak ketemu’ dengus Hyeri.

Sesampainya di kelas Hyeri segera mencari tempat duduk di sebelah Sehun, tapi ternyata bangku itu sudah diisi. Hyeri memutar kepala. Jongin. Hanya bangku disebelah dia yang belum terisi.
“Hyeri-ssi? Kau anak baru itu kan? Ayo cepat duduk, saya akan mulai membagikan tugas kelompoknya” perintah Bong Sun. Guru musik Hyeri.

“Kelompok? Kelompok apa ssaem?” tanya Hyeri bingung.

“Ah kau baru datang ya. Kau sekelompok dengan Kai. Bekerja samalah dengan baik ya.
Hyeri makin bingung, “Kai? Maaf ssaem Kai itu yang mana ya? Aku belum sempat berkenalan dengan yang lain”

“Itu yang duduk di belakang, kau tadi masuk ke kelas ini bersamaan dengannya kan? Kukira kalian sudah saling berkenalan”

Hyeri melongo ‘Jongin-ssi adalah Kai? Ah, perkenalan yang tidak baik’

Hyeri menundukan kepalannya dan berjalan menuju meja Jongin atau lebih tepatnya Kai.
‘Mohon kerja samanya, maaf tadi aku sedikit kasar’ bisik Hyeri. Tapi Kai sama sekali tidak bergeming. Dia terus menatap ke depan. Hyeri seketika pasrah dengan nilai musiknya. Akan sangat susah jika ia sekelompok dengan orang cuek seperti Kai.

‘Padahal aku suka pelajaran musik’ batinnya

“Perlu kalian tahu, pelajaran musik kali ini tidak hanya harus menyanyi. Kalian boleh berduet memainkan alat musik, atau menari bersama. Terserah kalian, tentukan dari sekarang. Penilaian akan di ambil 1 bulan lagi dari sekarang” jelas Bong Sun ssaem. Kelas pun mulai ribut. Tapi, Hyeri dan Kai masih tetap membisu satu sama lain.

“Ssaem, kalau yang satu memainkan alat musik dan yang satunya bernyanyi boleh?” tanya salah satu murid perempuan. Teman sekelompok Sehun.

“Boleh saja, tidak ada masalah” jawab guru musik itu, “Berdiskusilah dengan tenang anak-anak” lanjutnya

Hyeri melirik Kai dan memberanikan diri membuka percakapan.

“Jongin-ssi…”

“Panggil aku Kai. Aku kurang suka dipanggil Jongin”

“Oke Kai-ssi. Kita akan melakukan apa?”

“Terserah kau” balasnya acuh

“Tidak bisa begitu, harus kita pikirkan bersama”

“Aku suka bernyanyi, kalau kau?”

Hyeri menghela napas lega ketika mendengar perkataan Kai yang mulai melunak.

‘bukankah begini lebih baik?’ ujarnya dalam hati

“Aku juga suka bernyanyi, baiklah sudah di tetapkan kita akan bernyanyi!” tandas Hyeri

“Aku belum bilang mau bernyanyi kan? Kenapa mengambil keputusan sendiri?” Kai membetulkan tempat duduknya. Mulai menghadap Hyeri dan menatapnya dengan tatapan tajam.

“Tadi kau bilang, kau suka bernyanyi?” kata Hyeri sambil memiringkan kepalanya.

“Suka bukan berarti mau kan?” kali ini Kai menyenderkan sikunya di meja dan bertopang dagu. Hyeri makin bingung, terdiam, lalu menundukan kepalanya. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa.

Kemudian terjadi keheningan panjang. Hyeri tidak suka suasana canggung ini. Kai masih terus memperhatikannya. Perlahan senyumnya mengembang.

“Hey, aku hanya bercanda. Ayo kita bernyanyi” kata Kai disertai senyum dikulum dan alisnya yang terangkat satu. Hyeri mengangkat mukanya yang merah.

‘Jadi dia hanya mengodaku? Aish dia ini punya berapa kepribadian sebenarnya, hah?’

“Ya! Seriuslah sedikit. Bercandamu menyeramkan. Aku dari tadi sudah takut salah bicara tapi ternyata kau malah mengodaku” Hyeri mendorong Kai pelan.

Kai tertawa, membuat Hyeri menatapnya lekat lekat. Kai yang menyadari itu langsung berhenti tertawa.

“Mwo? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Kai

“Aniyo, Tidak apa-apa, hanya saja kau lebih bagus ketika tertawa. Lebih….hidup?” jawab Hyeri seadanya lalu mengambil notenya dan menulis sesuatu. Tanpa menyadari perubahan warna di muka Kai.

“Lagu apa yang bagus dinyanyikan berdua ya? Ada saran?” tanya Hyeri sambil terus menulis.
Kai menggaruk tengkuknya, berusaha memikirkan lagu-lagu duet. Tapi dia tidak mendapatkannya satu pun. Otaknya buntu gara-gara perkataan Hyeri.

Kringggg….

Kai langsung bergegas keluar kelas. Hyeri hanya bisa menghela napas melihat kelakuan patner barunya itu.

Kai dan Hyeri sama sekali tidak mengetahui kalau Sehun sedang menatap mereka tajam dan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Hyeri, “Hyeri-ya, kau akan menampilkan apa untuk tugas ini?”

“Aku dan Kai akan bernyanyi. Kau sendiri?”

“Entahlah, belum diputuskan. Kau bisa bernyanyi?”

“Jangan meremehkanku Sehun-a. Kau bisa jatuh cinta padaku seketika jika mendengar suara emasku” canda Hyeri.

‘Tanpa mendengarkan kau bernyanyi pun aku mungkin sudah jatuh cinta padamu, Hyeri-ya’ kata Sehun dalam hati.

“Aih, sekarang kenapa kau yang terlalu percaya diri?”

“Hahaha, entahlah mungkin tertular denganmu. Ayo kita pindah kelas” ajak Hyeri

Tapi sebelum Hyeri keluar kelas, Sehun mencegatnya, membuat Hyeri kaget dan mundur ke belakang.

“Kau ini…”

“Hyeri-ya, kita jadi berkencan sabtu ini kan?” potong Sehun.

“Ini bukan kencan Sehun-a, kita bertemu di Stasiun Jamsil jam 10, oke?” balas Hyeri sambil menepuk-nepuk bahu Sehun.

“Kau tidak mau kujemput saja?” tanya Sehun.

“Tidak usah, kita ketemuan saja, ok?”

“Ok, jam sepuluh di stasiun Jamsil. Jangan terlambat!”

“Ya ya Arraseo. Jam sepuluh si Stasiun Jamsil kan? Sampai ketemu”

“Sampai ketemu”

To be continue~~

Neoneun Byeol – Part 1

20120605-094759.jpg

Author : Pramaythessa
Main Cast : EXO Kim Jongin (Kai) , Park Hyeri (OC), EXO Oh Sehun (Sehun), Kim Yoora
Support Casts : EXO Members and Another OC
Length : Sequel
Genre : Romance
Rating : Teenager

Prolog

Langit mulai gelap dan jalanan terlihat sepi. Angin musim dingin berhembus kencang.

Dia berjalan di tepi sungai Han sambil menatap langit-langit yang mendung tanpa bulan. Hanya ada satu bintang di langit. Bersinar terang. Saking terangnya sampai-sampai kilauannya menyakitkan matanya.

‘Aku ini bintang yang paling terang. Biarpun cepat mati, paling tidak aku sudah berusaha untuk menyinari gelapnya malam’

Satu kalimat itu tiba-tiba hadir dipikirannya. Kalimat yang pernah di ucapkan gadisnya. Bintangnya. Dia kangen gadis itu. Dia sangat rindu.

Ia kemudian merapatkan jaketnya. Udara musim dingin menusuk tulangnya. Tapi bahkan ia tak peduli. Ia lebih peduli pada rasa sakit di hatinya. Sakitnya sangat menyesakan hingga rasanya bernapas pun sulit. Semua sendinya terasa kaku tapi terus ia paksakan berjalan walau terserok dengan matanya kosong menatap gelapnya malam.

Dia tidak bisa begini terus. Ia tak akan bisa. Tiba-tiba ia berhenti. Memalingkan wajahnya dan kemudian menatap sungai Han datar.

Mungkin ia harus terjun ke sungai itu. Mungkin hanya itu yang dapat menghentikan rasa sakitnya. Pasti sungai itu sangat dingin sampai-sampai bisa membekukan hatinya yang sakit. Ah tidak, mungkin dia harus menabrakan dirinya ke mobil yang lewat agar hatinya hancur. Jadi, ia tak akan bisa merasakan sakit ini. Tapi kemudian dia tercenung. Hatinya sudah hancur. Bahkan serpihannya pun tak ada. Tapi kenapa hatinya masih begini sakit?

Hanya gadis itu yang bisa menyembuhkan rasa sakitnya. Dia butuh gadis itu. Hanya dan cuma dia. Bintangnya.

***

Kai POV

Kai mendrible bolanya asal-asalan.  Pikirannya kembali pada kejadian tadi pagi saat dia di tunjuk sebagai ketua kelas yang baru. Siapa sih yang mau disuruh-suruh mengatur kelas dengan anak-anak yang disuruh diam pun susah. Kai bukan tipe anak rajin yang selalu mengerjakan tugas atau tipe anak yang suka mencari perhatian guru dengan menjawab pertanyaan yang kadang kala diberikan.

Ah, mollayo. Jalankan saja sesuka hatiku. Mungkin nanti ssaem akan kewalahan sendiri menghadapi tingkahku yang seenaknya.

Blas!

Tembakan Kai tepat sasaran. Bola itu masuk ke ring basket dengan sempurna. Bahkan membuat jaringnya bergoyang  pun tidak.

Kai kemudian mengambil tas. Dia sudah terlalu lelah hari ini. Pemilihan ketua kelas, kuis mendadak dan kedapatan wali kelas yang kadar ke-ingin-tahuannya jauh dari normal. Kai menghela napas panjang.

Dengan gontai Kai pergi meninggalkan lapangan sekolahnya tanpa tahu ada seseorang yang menatapnya kagum dengan mata yang bersinar jenaka.

***

Hyeri POV

Hyeri menatap sekolah barunya sambil memandang kagum. Sekolah barunya sangat bagus. Besar dan bersih serta dikelilingi pohon yang rimbun. Sebenarnya dia sudah harus masuk hari ini. Tapi, tadi pagi dia terlambat bangun karena belum bisa menyesuaikan jam tidurnya dengan waktu setempat, alhasil dia akan mulai memasuki sekolah barunya besok.

Hyeri memasuki sekolahnya lebih dalam. Mencari ruang guru untuk mengambil buku dan jadwal sekolahnya. Sebenarnya dia bisa mengambilnya besok, tapi ia tidak sabar untuk melihat sekolah barunya. Dia terlalu semangat dengan kepindahannya.

Hyeri menyelidiki semua sudut sekolahnya dan raut mukannya tidak berhenti memandang takjub.

Tanpa sengaja Hyeri menabrak seseorang. Seorang laki-laki yang memakai seragam yang sudah berantakan. Mungkinkah murid sekolah ini? Tapi jam sekolah bukannya sudah berakhir sejak beberapa jam yang lalu?

“Kau tidak mau meminta maaf?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan dia. Hyeri mendongakan kepalanya lalu mengerjapkan matanya, kemudian tersadar.

“Mianhaeyo, aku tidak sengaja. Aku terlalu asik melihat sekeliling jadi tidak sengaja menabrakmu. Mianhaeyo” ucap Hyeri sambil membungkukan badannya berkali-kali.

Laki-laki itu terkejut. Atau mungkin lebih tepatnya terpana. Lalu senyum dikulum mengembang di bibirnya, “Gwaenchanha, jangan panik begitu. Kau ini siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Hyeri kembali mendongakan kepalanya. Senyumnya ikut mengembang. Sedikit lega orang dihadapannya tidak marah, “Annyeong, namaku Park Hyeri. Aku ini murid baru. Aku hendak mengambil buku dan jadwal pelajaran. Kau tahu dimana ruang gurunya?”

“Annyeong. Panggil saja aku Sehun. Ruang guru ada disana,” tunjuk Sehun, lalu dengan senyum memudar setelah melihat jam ia pun berkata “Maaf Hyeri-ssi, aku harus pergi. Semoga kau menyukai sekolahnya ya” kemudian dia berbalik meninggalkan Hyeri.

“Kamsahamnida Sehun-ssi, hati-hati dijalan,” balas Hyeri setengah berteriak sambil melambaikan tangannya. Sehun kemudian membalikan badannya dan ikut melambaikan tangannya.

Untunglah Hyeri bertemu orang yang baik. Mungkin dia akan menyukai sekolah barunya. Dia kembali berjalan menuju ruang guru. Setelah berbincang-bincang sebentar dia keluar membawa dua plastik besar berisi buku dan seragam serta jadwal pelajaran.

Duk..duk..dukk

Hyeri menoleh mendengar sebuah suara. Karena penasaran Hyeri membelokan badannya mengikuti suara bola itu yang membawanya ke lapangan yang cukup besar dan melihat seseorang mendrible bola basket.

Orang itu membelakanginya. Badannya diterpa sinar matahari sore. Dengan satu gerakan tangan dan sedikit melompat laki-laki itu memasukan bola dengan indahnya.

Hyeri terpana.

Laki-laki itu…….bola basket……..sinar matahari sore yang menerpanya. Sempurna! Rasanya Hyeri ingin mengambar pemandangan itu di buku sketsanya. Hyeri terus memandanginya sampai laki-laki itu hilang dari hadapannya.

***

Sehun POV

Mungkin ini hari sialnya. Ini baru minggu kedua sejak masuk sekokah di semester dua tapi belum apa-apa dia sudah kena hukuman gara-gara ketahuan tidur di kelas. Ah, padahal hari ini dia sudah merencanakan untuk kencan dengan mahasiswi yang ia temui minggu lalu.

Bruk!

Aish. Dan sekarang ada orang bodoh menabrakku! Kapan sih kesialannya hari ini akan berhenti? Sehun mengambil tasnya yang terjatuh di lantai. Lalu berdiri dan melihat orang yang sudah menabraknya. Bukankah seharusnya dia meminta maaf? Apa aku harus menyindirnya dulu?

“Kau tidak mau meminta maaf?,” Dengan sedikit jengkel Sehun pun menegur gadis di hadapannya. Ketika gadis itu mendongakan kepalanya, Sehun baru bisa melihat wajahnya. Mata gadis itu besar dan bulat. Runcing di ujungnya seperti mata kucing.

Ah kyeopta. Bagaimana bisa aku marah kepada gadis semanis ini?

Tiba-tiba ia kaget, gadis itu membungkukan badannya berkali-kali. Hahaha, rasanya ingin tertawa melihat tingkahnya. Mungkinkah dia panik? Takut kalau aku akan memarahinya?

Sehun tersenyum melihat gadis dihadapannya “Gwaenchanha, jangan panik begitu. Kau ini siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya” ucap Sehun mencairkan suasana.

Setelah bertanya sedikit Sehun tahu ternyata gadis bernama Park Hyeri ini anak baru yang ingin mengambil buku dan jadwal pelajaran. Rasanya bisa saja terus memandangi Hyeri lama-lama. Tapi tiba-tiba ia ingat. Ia ada janji kencan!

Senyum Sehun memudar. Ingin rasanya membatalkan kencannya tapi Noona itu pasti akan terus menerus meneleponnya. Apa boleh buat.

“Maaf Hyeri-ssi, aku harus pergi. Semoga kau menyukai sekolahnya ya” Sehun pun mengakhiri percakapan singkat itu lalu berbalik dan pergi menjauh dengan sedikit berlari. Beberapa saat kemudian dia mendengar Hyeri berteriak mengucapkan terima kasih. Sehun berbalik dan membalas lambaian tangan Hyeri.

Ketika sampai di depan gerbang Sehun baru sadar ia lupa menanyakan nomor Handphone gadis itu. Ah, pokoknya besok ia harus mencari tahu. Harus.

***

(a/n: Ah, Chapter 1 selesai juga. Maaf kalau sedikit membosankan atau pun membuat bingung. Jangankan kalian yang baca, yang bikin aja bingung sendiri-___- aku bingung banget milih kata-kata yang pas. Ini FF pertama aku jadi harap maklum ya kalau ada kalimat yang terkesan freak atau kalimat yang diulang ulang terus muter-muter. Hehehe. Selama membaca)

Obseshe

Mau cerita cerita nih. Aku sama Dina dan Icha lagi ikutan lomba Obseshe nih. Lombanya tuh suruh buat video tapi berkaitan dengan kpop terus harus promosiin cologne she gitu dan hadiahnya Trip ke KOREA!!! Omg itu yang aku tunggu tunggu! Aku kan mau banget banget banget ke Korea tahun ini biar bisa ngelewatin Korean Visit Year disanaa. Semoga aku dan teman-temanku menang amin amin amin. Oh ya karena kalau ngepost video lama, aku kasih fotofotonya aja yaaa 🙂

20120522-094231.jpg

20120522-094325.jpg

20120522-094600.jpg

20120522-094548.jpg

Kira-kira seperti itulah videonya. Hahahaha sekalian video sekalian photoshoot. Sayang muka aku lagi kucel banget-,,-

oh yaaa special thanks buat mami nopi dan our official manager Ajeng! Kalau kita menang aku pasti bawain oleh oleh buat kalian :*

Tata Bahasa Korea

~ 을 (ㄹ) 래요? digunakan ketika Anda menyatakan keinginan Anda untuk melakukan sesuatu bersama-sama dengan seseorang, atau ketika Anda ingin seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi mirip dengan “Would you like to do something? atau Do you want to do something?” dalam bahasa Inggris.
● Peraturan
1. Untuk verba tanpa konsonan akhir, tambahkan ㄹ 래요.
하다 = 할래요? = Apakah Anda ingin lakukan?
가다 = 갈래요? = Apakah Anda ingin pergi?
사다 = 살래요? = Apakah Anda ingin membeli?
마시다 = 마실 래요? = Apakah Anda ingin minum?
2. Untuk verba dengan konsonan akhir, tambahkan 을래요.
먹다 = 먹을 래요? = Apakah Anda ingin makan?
앉다 = 앉을 래요? = Apakah Anda ingin duduk?
읽다 = 읽을 래요? = Apakah Anda suka membaca?
Misalnya :
커피 마실 래요? = Apakah Anda suka minum kopi?
점심 먹을 래요? = Apakah Anda ingin makan siang?
극장 에 같이 갈래요? = Apakah mau pergi ke bioskop bersama-sama?
Kosa kata :
극장 = bioskop, teater
점심 = makan siang, siang
같이 = bersama-sama
Catatan: Jika Anda menghilangkan 요 dari 을 (ㄹ) 래요 menjadi 을 (ㄹ) 래 saja maka itu menjadi bentuk informal.
커피 마실래? = Apakah Anda suka minum kopi?
점심 먹을래? = Apakah Anda ingin makan siang?
극장 에 같이 갈래? = Apakah mau pergi ke bioskop bersama-sama?
Semoga pelajaran yang sedikit ini bisa memberi manfaat.

Cr : culturekpop

26 April 2012

Semenjak gagal ke Korea Selatan tahun ini keinginan aku buat jadi backpacker jadi agak menurun. Kayaknya gagal sebagai seorang traveler (aduh apa banget). Padahal memang gak mesti dipaksa tahun ini sih. Cuma kan….tahun depan aku sama Dina belom tentu bareng lagi. Mungkin aku gak bakal dapet temen buat traveling kayak Dina lagi. Mungkin aku gak bakal dapet kesempatan kesana lagi. Pasti kan susah ijin lagi huff. Aduh jadi sedih lagi gini 😥

Tapi, aku tetep mau liat dunia. Aku pasti bisa walau tanpa Dina juga. Aku kan emang forever alone-,- gak mungkin bergantung sama dia terus kan? jadi galau gini.

Oh ya! Hari ini Super Junior dateng ke Indonesia buat concert besok sampe tanggal 29 April dan apesnya aku gak bisa nonton garagara terlalu maksain ke Korea. Sekarang aku nyesel setengah mampus. Ke Korea gak. Nonton Suju juga gak. Galau setengah mampus deh. Selama aku jadi ELF aku cuma menanti nanti kapan SuJu dateng ke Indonesia. Eh pas mereka dateng aku malah gak bisa nonton 😥 sedih banget parah. Tapi apa boleh buat. Aku terlalu kepengen ke Korea sampe gila gini. Mulai hari ini aku give up dulu. Emang mungkin jangan tahun ini ke Koreanya. Mungkin tahun depan dibolehin sama Allah. Gak apa apa sendiri. Gak apa apa gak pas winter yang penting aku kesampaian kesana 🙂 ayoo semangat!

Sekarang apa yang di depan mata di ambil dulu. Koreanya entar entar aja hiks. Maaf ya Din, perjuanganku cukup sampai sini. Bye bye Korea Visit Year :’)

With love,
Pramaythessa

11 April 2012

Hari ini aku masih checkin harga tiket pesawat ke Korea di Garuda kali aja tiketnya turun jadi 300 USD haha -,,- aku terlalu kepengen kesana. Kata mami tungguin aja tiket promo lagi. Kali aja ada kan masih december ini jalannya. Ya, mungkin dia ngomong gitu karena kasian liat aku kayak orang depresi kkk~ tadinya aku mau ikut mami tapi katanya udah full tournya hiks. Gak apa-apa deh yang penting kan mami udah ijinin ke Korea (maaci mom). Yah, tapi terpaksa mengharapkan tiket promo yang entah kapan adanya dan mengandalkan Traveliyagi yang lagi ikutan lomba dari Korea Tourism Organization #BanciKuis Hoho

Aku masih punya harapan gak ya buat ke Korea tahun ini ngejar Korea Visit Year? Semoga masih. Ayo semangat Thessa dan Dina! Kita harus ke Korea tahun ini. Optimis optimis :’D please give us a second chance God :’

Oh ya hari ini ada gempa 8,5 SR dengan kedalaman 10 km yang mengakibatkan Tsunami di Sumatera. Please protect us God, Protect Indonesia. Semoga saudara-saudara dan teman-teman yang di Sumatera baik-baik aja semuanya O:’ May Allah be the Guardian #PrayforSumatera #PrayforIndonesia

10 April 2012

Today is a bad day. Seriously.

Aku masih gak terima kalau aku ternyata gak bisa ke Korea tahun ini. Masih gak percaya. Padahal tinggal selangkah lagi dapetin tiket itu tapi ternyata tiketnya lenyap begitu saja.

Terlalu banyak berharap. Terlalu pede. Terlalu memaksakan diri.

Aku tau dari awal emang aku gak bisa kesana. Gak tau kenapa aku selalu pesimis. Dan semuanya terbukti aku gak jadi kesana. Padahal aku sangat sangat pengen kesana. Aku terlalu pengen kesana.

Banyaaaaak banget pengorbanan yang udah aku lakuin. Yang udah aku usahain sebisa aku. Dari mulai berusaha gak belanja, gak beli banyak buku, gak beli soursally kayak orang gila, gak nonton SS4, gak ngerayain ulang tahun (yang kayaknya hampir semua cewek di dunia nganggep sweet seventeen wajib banget buat dirayain), dan yang paling parah aku gak ikut mami dan dede tour bulan juni nanti. Berarti artinya mereka bakal seneng seneng dan aku bakal makan ati karena gak bakal kemana-mana tahun ini. Oke pasti semuanya gak bakal percaya kalau aku ditinggal gitu aja. Tapi i know my mom so well. Yeah how poor i am?

Hari ini sama kayak kemaren. Aku abisin seharian dengan nangis. Di rumah, dijalan mau ke sekolah, disekolah sampe-sampe semua merasa iba dengan aku dan mereka nganterin aku pulang terus nemenin aku dirumah. Dirumah aku makin makan hati liat itinerary yang udah susah payah aku bikin dan coat coat yang udah aku beli.

Mungkin aku gak jodoh sama Korea. Negara gingseng itu terlalu tinggi buat aku jamah. Mungkin akan ada kesempetan dilain waktu tapi aku gak yakin bisa ngebujuk mami lagi. Dia terlalu keras. Dan aku terlalu jaim. Gak bakal ada yang mau ngalah. Kali-kali takdir idup bikin aku makan hati. Haha.

Dan kalian mau tau apa? Agnes, temenku yang kelewat tajir dan tomboy itu bakal ke Korea Agustus tahun ini. Aku cuma bisa iri dan berharap bisa ikut. Tapi apa boleh dikata. Uangku kini sudah lenyap. Keinginan aku juga udah jadi uap.

Maaf ya temen-temen aku udah masang tampang menyebalkan di depan kalian. Makasih supportnya walau mungkin aku memang gak bakal punya kesempatan ke Korea lagi. Semoga maskapai yang php itu mendapatkan pelajaran karena aku masih dendam dan gak ikhlas sampe sekarang. Haha.

Ps : aku juga gak tau knp aku terobsesi sama Korea Selatan banget. Aku freak? Yes i am. Dan aku menyesal banget gak ikut mami tour. Emang aku gak terrlahir jadi backpacker :’

Goodnite semua. Maaf menyampah dengan tulisan kebencian dan kekecawaan ini-,,-

No Title

Ini lebih menyedihkan daripada diputusin pacar. Lebih menyakitkan daripada di gigit tomcat. Dan lebih menyayat hati daripada cerita uncle ice creamnya Ajeng. Aku gak jadi Backpacker ke Korea. Iya, gak jadi.

Ceritanya gini, semalem aku udah dikasih uangnya sama mami buat beli tiket pesawatnya. Aku udah seneng mampus soalnya dari kemaren mami udah janji bakal ngasih uangnya sebelum tanggal 12. Aku langsung line Dina dan aku suruh dia ngecheck harganya. Dan mau tau apa yang terjadi?? Harganya naik! Sumpah rasanya aku mau bunuh diri saat itu juga. Dina langsung kaku. Aku cuma bisa marah sambil nangis terus buka website Garuda karena aku kira Dina cuma bercanda. Dan ternyata bener. Harganya naik dua kali lipat. Tiba-tiba Dina facetime aku dan ngomong dengan suara serak (yang kedengeran banget lagi nangis). Kita bete banget saat itu. Gimana gak bete? Katanya Garuda lagi Early Bird sampe tanggal 12 April tapi kenapa belom tanggal segitu udah naik? Kecewa iya, nyesel karena gak beli tiketnya lebih cepet iya, campur aduk. Padahal aku udah nanti-nantiin banget. Aku udah beli coat. Udah nyusun Itinerary udah beli buku panduan buat ke Korea tapi semuanya useless. Padahal aku ngebet banget tahun ini kesana garagara ada discount khusus buat visitor. Pengen nangis banget gak sih?!?!

Yaa, mungkin belom saatnya ke Korea. Belom saatnya nginjekin kaki sambil dance Gee di depan Gedung SM, terus foto di Namsan Seoul Tower pake gaya andalan. Mungkin juga gak bakal ada kesempatan buat kesana. Pesimis. Terlalu dikecewakan.

Pelajaran kali ini : Jangan kesenengan dan jangan seneng kalau jalan menuju sesuatu terlalu berjalan mulus. Soalnya pasti ada udang di balik batu.