Neoneun Byeol – Part 4

1234

Author POV

“Selamat pagi Appa. Tidurnya nyenyak gak?”

“Ah, selamat pagi Hyeri-ya. Baik, Appa sempat memimpikanmu haha. Kau terlihat baik. Mau jalan-jalan hari ini?”

Hyeri mengambil setangkup roti tuna lalu melahapnya.

“Mau kemana kita?”

“Mengelilingi Seoul. Disini banyak tempat bagus yang harus kau kunjungi”

“Oke, aku mau kemana saja. Rasanya kalau hanya di aparte hari ini akan terasa sangat membosankan”

“Makanya, cepat habiskan makananmu dan bersiaplah” balas Ayahnya sambil tersenyum. “Ah, ini minum obatmu juga. Ayah tidak mau kau sakit”

Hyeri hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Mulutnya yang penuh tidak bisa membuatnya bicara. Ayahnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

“Pelan-pelan sajalah. Kau ini seorang yeoja. Mana boleh makan seperti itu”

Hyeri mengangkat muka dan nyenyir kuda. Lalu cepat-cepat menghabiskan potongan roti terakhirnya.

***

“Ini Dongdaemun, Shopping Areanya Seoul. Kau bisa menemukan apa saja disini. Ada yang ingin kau cari?”

Hyeri memandangi sekelilingnya. Dia pernah kesini. Tapi dulu saat dia masih kecil. Tampaknya tempat ini sudah sangat berubah. Lebih hidup dan berkembang.

“Hyeri-ya? Ada yang ingin kau cari tidak?”

Hyeri mengerjapkan matanya berkali-kali. Sesungguhnya ia ingin mencari gitar. Dia tak sempat membawa gitarnya. Tapi ia tidak enak jika memintanya kepada Ayahnya.

“Ah, aku sedang tidak ingin membeli sesuatu. Tapi aku ingin berkeliling. Sepertinya tempat ini menarik”

Ayahnya mengangguk-angguk, “baiklah, ayo jalan”

Mereka pun memasuki salah satu Mall terdekat dihadapannya. Ternyata memang disini sangat lengkap. Apa saja tersedia. Baju, Barang Elektronik sampai makanan tersedia.

Mata Hyeri tertuju kepada toko alat musik di pojok sudut Mall itu. Jejeran gitar menarik perhatiannya. Hyeri suka sekali bermain gitar.  Namun dompetnya belum mencukupi untuk membeli sebuah gitar baru.

“Hyeri kesini sebentar,” panggil Ayahnya yang masuk ke sebuah counter handphone.

“Bisa lihat yang ini?” ujar Ayahnya ke seorang sales.

“Tentu saja, ini silahkan dilihat” balas sales itu ramah.

“Hyeri, bagaimana menurutmu? Ini seperti bagus”

Hyeri melihat handphone itu. Kalau tak salah itu tipe terbaru. Harganya pasti cukup menguras kantong.

“Bagus, Appa mau beli?” tanyanya.

Ayahnya terlihat menimang-nimang handphone itu. “Ne, untukmu. Handphone Indonesia tidak bisa dipakai disini. Dan akan susah menghubungimu kalau kau tidak punya handphone”

Hyeri mengerjapkan matanya berkali-kali. Itu kebiasaannya jika tidak memahami sesuatu atau kaget.

“Tidak usah repot-repot Appa”

“Aigo, tidak merepotkan sama sekali kok sayang. Kau ini jarang meminta sesuatu. Appa bisa-bisa melupakan tujuan Appa bekerja”

“Tujuan bekerja?” tanyanya tak mengerti.

“Ne, menghidupi dan mencukupi kebutuhanmu. Apa lagi?”

“Appa…..” Hyeri mulai berkaca-kaca dan memeluk Ayahnya. “Gomawo, Appa semua ini sudah lebih dari cukup” katanya

“Aish, jangan memeluk Appa disini. Seperti drama saja. Jadi, bagaimana kalau yang ini? Kau suka?”

Hyeri menggosok dagunya seperti berpikir. “Kalau boleh, aku mau yang ini” Tunjuknya kesebuah handphone berwarna pink cerah.

“Ah, Arraseo. Karena warnanya pink kan?”

“He-eh” Ujar Hyeri malu-malu.

“Baiklah, saya ambil yang ini satu ya. Dan yang ini satu”

“Heh?” Hyeri terlihat bingung

“Appa tiba-tiba ingin handphone baru. Hahahaha, sepertinya handphone ini sedang ‘in’. Appa sering melihat artis dan aktor yang pakai handphone ini di drama”

Hyeri hanya balas dengan tatapan menggelengkan kepalanya. Dan itu membuat Appanya tertawa.

“Hehehe, Appa kan juga ingin jadi gaul”

Lalu Hyeri hanya bisa menghela napas. Appanya ini…….huff

***

“Ne, Saya akan segera kesana,” Ayahnya memutuskan hubungan di telepon.

“Kenapa? Ada masalah?” tanya Hyeri.

“Ne, kau bisa pulang sendiri? Maaf ya. Tapi Appa harus ke Jeonju sekarang”

Hyeri mengangguk. “Gwaenchana, semoga masalah ya cepat selesia ya. hati-hati dijalan”

“Gomawo Hyeri-ya. Sini biar barang belanjaannya Appa yang bawa. Dan ini uang untuk kau pulang”

Hyeri menggambil uang yang Ayahnya berikan. Lalu mengernyitkan dahinya. “Appa, ini terlalu banyak”

“Ah, itu untuk membeli gitar yang disana itu. Kau tadi memperhatikannya kan? Dan Appa baru sadar kau tidak membawa gitarmu waktu pindah kesini. Belilah. Tanda permintaan maaf karena meninggalkanmu hari ini”

“Tapi…”

“Sesampainya dirumah kau harus memainkan sebuah lagu untuk Appa. Kalau tidak, Appa tidak akan mengijinkanmu masuk ke Aparte. Arasseo?”

Hyeri mengembangkan senyumnya lalu menatap uang ditangannya. “Pasti akan kumainkan! Sepuluh lagu sekalipun pasti akan kumainkan. Gomawo untuk hari ini ya, Appa. Sering-seringlah meninggalkanku sendirian hahaha”

“Kalau maumu seperti itu Appa bisa bangkrut, nah sekarang Appa pergi dulu ya” balasnya sambil mengusap puncak kepala Hyeri. Salah satu hal yang paling Hyeri sukai.

Hyeri melambaikan tangannya dan melihat sosok Ayahnya yang menjauh dari restaurant tempat mereka makan siang. Nah, sekarang saatnya ke toko alat musik!

***

Babo.

“Pikunnya aku sampai lupa letak toko alat musik itu. Seharusnya ada di lantai ini kan? Aish, kenapa Mall ini begini besar sih” ujar Hyeri dalam hati.

Hyeri berjalan mondar-mandir mencari satpam yang bertugas menunjukan jalan.

BRUK

Tanpa sengaja, Hyeri menabrak seseorang.

“Ah, Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo,” ucap Hyeri sambil menundukan kepalanya berkali-kali

“Gwaenchanayo, lain kali….Hyeri-ssi? Kau sedang apa?”

“Kai-ssi, Annyeong. Hmm.. Aku sedang mencari toko alat musik, kau sendiri?”

“Oh, aku juga,” balasnya.

“Jinjja? Boleh pergi bersama? Aku tidak tahu letaknya. Kau tidak keberatan kan?” tanyanya.

“Kenapa tidak? Ikut aku,” jawabnya. Hyeri segera mengikutinya dari belakang sambil tersenyum-senyum sendiri.

‘Ini kebetulan yang menarik’ pikirnya

Sesampainya di toko alat musik, Hyeri dengan teliti melihat gitar-gitar yang terpajang indah di etalase toko. Asik sendiri.

“Kau mau beli apa?” tanya Kai

“Hmm, gitar hehe” balasnya tanpa memalingkan wajahnya ke arah Kai.

“Kau bisa bermain gitar?”

“Hanya sedikit-sedikit. Aku masih pemula”

Kai mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mulai menelusuri toko itu tanpa disadarainya.  Dia menemukan sebuah gitar di pojok ruangan yang menarik perhatiannya. Gitar berwarna pink lembut dengan sedikit corak berwarna putih.

“Igo, cocok untukmu”

“Ne?”

Hyeri melihat gitar yang ditunjukan oleh Kai. Matanya langsung berbinar-binar dan senyum berkembang diwajahnya.

“Ini….sempurna. Aku sangat suka warnanya” ujarnya terkagum-kagum

“Jinjja, sudah kutebak,” Kai tersenyum, “jadi kau mau beli yang ini?”

“hmm, kalau harganya sesuai aku mau, kau sendiri mau….?” sebelum Hyeri bertanya lebih lanjut, Kai sudah melengos pergi meninggalkannya dan meghampiri seseorang yang sepertinya pegawai toko ini.

“Hyung, yang ini harganya berapa? Apa? Kau tidak bisa beri kami discount, aku kan sudah sering belanja disini. Nah, itu baru harga yang sesuai kantong anak sma, kau memang yang terbaik. Makasih hyung.”

Mendengar itu Hyeri hanya tercengang, “kau rupanya pintar menawar sesuatu ya, tak kusangka”

Kai menaikan sebelah alisnya, “Kau meremehkan aku?”

“Aniya, aku hanya tak menyangkanya. Terima kasih.”

“Untuk?” Kai memiringkan kepalanya

“Mengantarku kesini, memilihkan gitar ini, menawarkan harganya, semuanya. Aku merasa berhutang budi.” Senyum Hyeri berkembang.

“Ah, pertama aku bukan mengantarkanmu, itu karena kebetulan aku juga mau kesini. Soal gitar dan tawar-menawar itu juga bukan kulakukan untukmu, aku hanya spontan saja. Ini bukan kali pertama aku membantu seseorang memilih dan menawar disini”

Mendadak senyum Hyeri hilang namun tak sampai sedetik berkembang lagi, “Apapun alasannya, terima kasih sudah membantuku hari ini,”

“Ya, sama-sama. Ah aku sampai lupa ingin membeli senar baru, sebentar”

Tak berapa lama kemudian setelah mereka membayar barang yang mereka beli, mereka berdua keluar dari toko musik itu. Dengan kantung belanjaan masing-masing dan raut wajah puas yang tak bisa disembunyikan.

“Jadi, kau mau kemana setelah ini?” Hyeri kembali bertanya kepada Kai.

“Kenapa? Kau tak bermaksud mengikutiku kan?” balas Kai acuh.

“Ya, kau ini sebentar-sebentar baik, lalu acuh. Aku tidak akan kaget kalau kau bilang punya kepribadian ganda,” balas Hyeri

Kai menatap Hyeri, takjub. Dia tak pernah disindir di depan matanya seperti ini. Oleh seorang gadis. Yang bahkan baru dikenalnya. Aneh rasanya dia tak tersinggung, gadis ini sudah dua kali membuat dia tak seperti dirinya sendiri.

“Wae, kau mau marah padaku?” Hyeri membalas tatapan Kai, tanpa takut.

“Ani, aku ada urusan. Sampai ketemu besok.” Kai pun berbalik dan hendak beranjak pergi.

“Jadi, kau ingin bertemu aku besok?” tanya Hyeri malu-malu

Kai kemudian berbalik lagi dan menatap Hyeri dengan tatapan bingung “kau bodoh? Besok itu adalah senin. Mau tak mau pasti aku akan bertem denganmu besok di sekolah”

Hyeri melongo, kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya yang bulat berkali-kali.

“Aish, kenapa aku bisa lupa besok senin. Kenapa pula aku berharap dia ingin bertemu denganku. Sadar Hyeri-ya, dia itu manusia aneh berkepribadian ganda. Jangan terkecoh dengan kebaikannya”

Tanpa pikir panjang lagi, Hyeri berbalik dan meninggalkan Kai yang tak dapat lagi menyembunyikan senyumnya.

“Hyeri, kau unik. Unik sekali.”

Di luar sadar, Kai terus memperhatikan sosok Hyeri yang pergi menjauh dengan senyum yang masih berkembang dibibirnya.

“Bagaimana aku bisa acuh dengan gadis seperti dirinya” ucap Kai dalam hati. Lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Neoneun Byeol – Part 3

20121011-225837.jpg

(a/n) : Maaaaf banget udah lama gak post ini. Terlalu males buat ngedit dan ngetiknya hehe. Ya walau gak ada yang baca tetep aja rasanya ada sebuah kewajiban buat lanjutin FF ini apalagi FF perdana aku wkwk. Maaf belom di edit jadi masih ancur. Will edit it soon pas buka Lappiee hehe. Enjoy!

Author POV

Rasanya susah untuk meninggalkan jeratan kasur di hari Sabtu. Tapi berhubung dia sudah janji dengan Sehun apa boleh buat. Hyeri pun menyeret badannya ke arah kamar mandi.

Setelah mandi cukup lama, Hyeri mengeringkan rambutnya sebentar dan mencari baju yang cocok ia pakai hari ini. Tanpa pikir panjang Hyeri mengambil sweater tipis berwarna merah muda cerah dan jeans pendek berwarna hitam.

Dia dan Sehun berjanji bertemu di depan Statsiun Jamsil jam 10.00, tak ingin membuat Sehun menunggu Hyeri pun segera meninggalkan rumah.

“Appa, aku ijin keluar ya hari ini,” Ayahnya membalikan badan dan menatap Hyeri, “Kau mau kemana Hyeri-ya?

“Hanya berjalan-jalan saja. Aku sudah lama tidak melihat Seoul” balas Hyeri.

Ayahnya membetulkan kaca mata yang sedikit melorot “Kau pergi dengan siapa? Perlu Ayah antar?”. Hyeri menatap ayahnya dalam-dalam. Terlihat jelas kekhawatiran di matanya. Hyeri menepuk pundak Ayahnya menenangkan, “Appa, aku baik-baik saja. Aku akan segera telepon Appa kalau terjadi sesuatu”

Ayahnya tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Dia memang tidak bisa menolak permintaan anak perempuannya, “jangan lupa cepat telepon kalau ada sesuatu. Hati-hati dijalan”

09.30

‘Ah, kenapa aku datang sepagi ini? Waktu janjian kan masih setengah jam lagi’ runtuk Sehun dalam hati. ‘Apa pakaianku sudah rapi? Parfumku terlalu menyengat tidak ya?’

Sehun mondar-mandir di depan stasiun. Aish! Kenapa bertemu dengan Hyeri saja sudah membuatnya salah tingkah seperti ini? Tidak seperti biasanya.

“Sehun-a, kau sudah datang?”

Sehun berbalik dan ternganga. Hyeri….pakai seragam saja sudah cantik dan sekarang dia lebih cantik lagi. Rambutnya di kuncir kuda membuatnya segar. Hyeri berjalan mendekat. Dalam radius satu meter pun harum tubuh Hyeri sudah tercium.

“Kaja, kita harus mengantri tiket kan?” Hyeri menarik tangan Sehun menjauhi stasiun. Sekitar 15 menit mereka sampai di Lotte World dan mengantri di kasir. Antriannya cukup pendek untuk hari libur.

‘Sehun-a, kau berbohong!” tuduh Hyeri sambil mendorong tubuh Sehun.

“Ya! Aku bohong apa padamu?” balas Sehun.

“Kau bilang ada discount khusus untuk pasangan. Discount dari mananya?” Hyeri memicikkan matanya. Sehun tertawa, membuat Hyeri makin jengkel.

“Mianhae Hyeri-ya. Kalau aku tidak berbohong kau tidak mungkin mau aku ajak kesini kan?” Hyeri tetap diam.

“Ayolah, kita nikmati saja hari ini” Sehun membayar karcis untuk memasuki Lotte World lalu menarik tangan Hyeri menuju pintu masuk taman rekreasi indoor tersebut.

“Sehun-a, aku tak mau berhutang lagi padamu”

“Kalau begitu makan siang nanti kau yang bayar, gimana?”

“Setuju, ayo kita nikmati hari ini”

***

“Kau ini tangguh ternyata” Sehun menghempaskan badannya di sebuah bangku kayu yang terletak di pinggir jalan. Menyeka keringat di pelipisnya.

“Kau juga cukup tangguh hahaha” balas Hyeri. “Ah, sudah lama tidak bermain seperti ini” Ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya

“Kau senang?” tanya Sehun

“Ya, sangat senang. Pertama kali ke Lotte World aku belum bisa main yang bisa menantang adrenalinku. Sekarang semuanya terasa sangat kecil”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya “Syukurlah, berarti aku tidak salah-kan mengajakmu kesini?”

Hyeri menangguk. “Gomawoyo Sehunnie” ucap Hyeri tulus sambil memamerkan deretan gigi yang tertata rapi.

Sehun memalingkan mukanya.

‘Ah, melihatnya tersenyum saja membuat jantungku tidak karuan. Ini normal tidak sih?’

“Sehun-a. Kau kenapa?”

“Gwaenchana. Ayo kita makan. Aku lapar sekali” balas Sehun asal lalu mengandeng tangan Hyeri. Muka Hyeri memerah. Dia meremas ujung bajunya. Hyeri hendak menepis tangan Sehun. Tapi genggaman tangan Sehun terlalu kuat. Hyeri pasrah.

Mereka kemudian pergi ke restaurant cepat saji terdekat dan menyantap makan siang mereka.

“Jal meokgesseumnida. Sehunnie, manhi teuseyo!” Hyeri langsung membuka bungkusan burger yang dibelinya lalu melahapnya tanpa ampun.

“Ya,Hyeri-ya. Kau ini lapar atau rakus sebenarnya? Makannya pelan-pelan sajalah” Sindir Sehun ketika melihat cara Hyeri memakan makan siangnya.

“Kau ini tidak bisa diam ya? Ini caraku menikmati makan siangku.” balas Hyeri.

“Tidak kusangka badan sepertimu punya napsu makan seperti ini. Entah lari kemana semua lemak yang kau makan” gurau Sehun sambil memakan burgernya lahap.

“Diamlah dan selamat menikmati makan siangmu” putus Hyeri

Mereka pun makan dalam diam. Hyeri makan dengan lahap sedangkan Sehun makan sambil tersenyum memperhatikan cara gadis didepannya makan dengan lahap.

‘makanpun kenapa bisa begini lucunya’ batin Sehun

“Huaa, kenyangnya. Ayo cepat habiskan makananmu dan kita lanjutkan bemain”

Sehun mengerjapkan matanya. “Main? Kau belum cape? Tidak bisakah kita istirahat sebentar lagi?”

Hyeri melipatkan tangannya di depan dada “Kau ini bagaimana. Kau kan yang mengajakku kesini? Seharusnya kau sudah menyiapkan fisikmu untuk bermain seharian”

Sehun menganga “Kau ini sebenarnya apa? Wanita super? Tenagamu tidak ada habisnya ya. Seperti anak kecil saja”

Hyeri menyipitkan matanya dan membalas dengan angkuh “Aku bukan anak kecil. Kau saja yang staminanya seperti kakek-kakek yang berumur 70 tahun”

“Ya, jaga bicaramu Hyeri-ya. Akan kutunjukan staminaku. Kau pasti tak akan bisa menandinginya”

“Ayo, kita lihat siapa yang menang”

Hyeri berlari kecil menuju tempat permainan yang lain. Sehun mengikutinya dari belakang. Mengajak Hyeri sama saja seperti anak kecil. Dia harus tahan banting ketika Hyeri mencoba permainan yang bikin perutnya teraduk berkali-kali.

Setelah cukup cape menelusuri seluruh permainan yang ada di Lotte World, mereka berdua duduk lagi di bangku pinggri jalan tadi.

“Hyeri-ya, mukamu sedikit pucat. Kau kenapa?” ujar Sehun sambil memegangi wajah Hyeri.

‘Ah, aku lupa minum obatnya’ ingat Hyeri

“Gwaenchana Sehun-a. Aku hanya kecapean saja” balas Hyeri sambil memalingkan wajahnya.

“Benar kau baik-baik saja. Ayo kita pulang. Aku akan mengantarkanmu” ajak Sehun

Hyeri memeriksa jamnya.

17.25

Sudah hampir seharian Hyeri dan Sehun bermain di Lotte World. Dan dia bahkan melupakan obatnya.

“Aniyo, aku bisa pulang sendiri Sehun-a. Kau pulang saja duluan” jawab Hyeri.

“Andwae. Aku akan mengantarkanmu pulang. Jangan menolak.” balas Sehun. Tegas. Tanpa bisa ditolak. Lagi-lagi Hyeri pasrah. Dia sudah kehabisan tenaga untuk berdebat.

Mereka menaiki subway dalam diam. Sehun menatap Hyeri yang kini tanpa senyuman dan mata berbinarnya. Hyeri terlihat lelah. Apa mungkin dia terlalu cape?

Hyeri yang menyadari tatapan Sehun mengangkat suara “Gwaenchana Sehun-a. Kau tidak perlu melihatku seperti itu”

Sehun kaget lalu menggarukan dagunya. Malu ketahuan memperhatikan Hyeri. Mereka turun di stasiun Gangnam. Setelah berjalan sebentar mereka berhenti di sebuah Apartement besar dan mewah.

“Jadi disini rumahmu?” tanya Sehun

“Yep, gomawoyo Sehun-a karena sudah mengajakku ke Lotte dan mengantarkanku pulang. Aku sangat senang”

“Cheonmaneyo Hyeri-ya. Aku sangat senang bisa pergi dengamu. Maaf aku sedikit berbohong dan memaksamu”

“Tidak. Tidak perlu meminta maaf. Aku tidak keberatan kau ajak main. Lain kali kita pergi bersama lagi, ok?”

“Kau yakin? Benar kau mau pergi lagi denganku?”

Hyeri mengangguk. “Kenapa tidak? Kau teman yang asik”

Mata Sehun berbinar. Hatinya berbunga-bunga. Hyeri mengajaknya pergi lagi lain kali. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari ini.

“Hubungi aku kapan saja yang kau mau. Aku akan dengan senang hati jalan denganmu”

Hyeri melirik jamnya. “Sudah saatnya kau pulang. Hati hati dijalan ya. Sampai bertemu disekolah senin nanti. Dah”

“Hmm, Hyeri-ya, boleh aku meminta nomor ponselmu?”

“Ponsel? Ah, maaf Sehunnie. Aku tak punya ponsel. Handphone Indonesiaku tidak dapat digunakan disini dan aku belum sempat membeli yang baru”

“Oh, begitu. Berjanjilah padaku kau akan memberika nomormu jika kau sudah punya nanti”

“Pasti kuberikan. Sekarang kau harus cepat pulang. Sudah mulai gelap.”

“Ne, Arraseo. Sampai jumpa Senin nanti Hyeri-ya”

Hyeri melambaikan tangannya danSehun membalas lambaian tangan Hyeri, lalu kemudian berbalik pulang.

‘1 hari yang tak terlupakan bersama Hyeri. Awal yang bagus’ batin Sehun sambil bersiul riang

Hyeri segera masuk ke dalam apartementnya secepat kilat setelah melihat Sehun menghilang di tikungan jalan. Dia langsung membuka tas, mengaduknya dengan tangan gemetar. Ketika menemukan yang ia cari dengan sekali teguk ditelannya obat-obat yang entah apa gunanya itu.

‘Hampir saja….’

Hyeri memegang dadanya. Kalau saja ia terlambat sedikit. Mungkin dia akan pingsan dan pasti Sehun akan kebingungan.

Hyeri menghela napas pelan. Untuk sekarang ia bisa tenang. Dia pun beranjak menuju lift dan menuju Apartementnya.

Hampir jam 7 dan Appa belum pulang? Untung saja. Kalau gak, Appanya yang satu itu bisa menyuruhnya ke rumah sakit karena melihat mukanya pucat tak karuan seperti sekarang ini.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Hyeri menghempaskan badannya ke sofa. Memutuskan untuk menunggu Ayahnya.

“Huwaa hari yang melelahkan. Hmm.. Sehunnie hari ini dia sangat tampan. Tak heran banyak yang menyukainya di sekolah. Dia baik. Tapi sangat terlihat kalau dia tipe Nappeun Namja haha” gumam Hyeri.

“Andai Jongin lebih mudah didekati seperti Sehun, pasti bersamanya akan lebih menyenangkan dan tidak canggung”

“Aish, kenapa jadi Jongin ya? Cowok aneh itu tidak pantas untuk dipikirkan”

Hyeri terus bergumam tak karuan hingga akhirnya ia tertidur di sofa.

***

“Hyeri-ya? Kau sebaiknya jangan tidur disini” Ayahnya membangunkannya.

Hyeri bangun dan menatap jam di dinding. Sudah hampir jam 12.

“Appa baru pulang? Kenapa lama sekali?”

Ayahnya mengendorkan dasi dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum. “Mianhae Hyeri-ya, Appa tadi harus ke Jeonju. Ada sedikit masalah, tapi sekarang sudah selesai”

Hyeri mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya. “Aku tidur lagi ya. Appa juga cepatlah tidur,”

“Ne, Jal Jayo sayang”

Neoneun Byeol – Part 2

20120620-124332.jpg

Author : Pramaythessa
Main Cast : EXO Kim Jongin (Kai) , Park Hyeri (OC), EXO Oh Sehun (Sehun), Kim Yoora
Support Casts : EXO Members and Another OC
Length : Sequel
Genre : Romance
Rating : Teenager

(a/n : Ah, maaf part 2nya baru bisa di post. sibuk latihan dance nih jadi gak sempet ngedit. part 3nya juga sabar ya nunggunya. abis aku bakal sibuk lagi latihan jadi butuh waktu lama untuk nulisnya. maaf kalau part kali ini kurang memuaskan. selamat membacaa^^ ditunggu komenya)

Author POV

“Annyeong Haseyo, Jeoneun Park Hyeri imnida. Indonesia eseo watseumnida. Bangapsumnida. Mohon bantuannya” Ucap Hyeri lantang. dia tidak pernah kesulitan memperkenalkan dirinya. Tapi, sudah lama ia tidak menggunakan bahasa Korea. Dia merasa sedikit aneh tapi yasudahlah. Semoga pemilihan kata formal yang ia ucapkan tidak salah.

“Ini teman baru kalian, tolong di bantu ya,” tambah Jinsung Ssaem, “nah, Hyeri ada dua bangku kosong. Silahkan duduk dimana pun kamu mau.

Hyeri mengedarkan pandangannya. Kemudian tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang duduk di barisan ketiga dari depan. Laki-laki itu menatap keluar jendela sambil memangku dagunya. Matahari pagi menerpanya sehingga bayangannya sedikit kabur. Hyeri terpesona melihat pemandangan itu.

‘Mungkinkah dia laki-laki yang kemarin?’ tanya Hyeri dalam hati. Kalau benar, untuk kedua kalinya laki-laki itu membuatnya terpesona.

“Hyeri-ssi!” satu suara mengagetkannya dari lamunannya. Suara itu rupanya milik…….Sehun-ssi? Rupanya mereka sekelas. “Duduk disini saja, bangku ini kosong,” lanjut Sehun

Hyeri melirik laki-laki yang tadi dan melihat tempat duduk disamping Sehun yang letaknya dibarisan keempat, dua meja dari tempat duduk si cowok itu. Sebenarnya di belakang bangku cowok itu kosong. Tapi, kalau dari tempat duduk di samping Sehun…

Hyeri pun berjalan ke arah Sehun. Lalu menghempaskan badannya di bangku. Tepat! Dari tempat duduk ini Hyeri bisa melihat cowok itu dengan leluasa tanpa takut ketahuan.

“Hyeri-ssi masih ingat padaku tidak?” Sehun membuka pembicaraan. Hyeri mengalihkan pandangannya ke Sehun.

“Sehun-ssi kan? Yang kemarin tak sengaja kutabrak?” balas Hyeri. Dia kemudian membetulkan letak duduknya dan mulai mengeluarkan binder.

“Ah, masih ingat rupanya. Kukira sudah lupa. Senang bisa sekelas denganmu,” Sehun memamerkan senyum mautnya.

“Aku juga senang bisa sekelas denganmu. Kukira aku akan kesulitan mendapatkan,” Hyeri pun membalas senyuman Sehun. Sehun seketika salah tingkah. Kenapa bisa dia yang

Jinsung Ssaem tiba-tiba berdeham, “Sehun-ssi pelajaran akan segera dimulai. Jangan mengajak anak baru berbicara terus. Dan Jongin-ssi, tolong istirahat pertama nanti antarkan Hyeri mengelilingi sekolah dan beri tahu dia kelas-kelas yang harus dituju ketika pergantian

“Kenapa harus aku sih? Dia bisa mengelilingi sekolah sendiri,” sergah anak yang bernama Jongin itu. Ah, namanya Jongin. Laki-laki yang membuatnya terpesona itu…namanya unik.
Mendengar penolakan itu, Jinsung Ssaem menatap Jongin tajam,”Kau ini ketua kelas, mengantarkan anak baru mengelilingi sekolah saja masa tidak mau. Apa susahnya sih?”

Hyeri yang tidak enak melihat suasana itu pun angkat suara, “Jinsung Ssaem, aku bisa sendiri kok.”
“Aku bisa mengantar Hyeri kalau Ssaem mau. Hitung-hitung sebagai tanda penyesalanku karena kemarin tertidur di kelas Matematika Ssaem” Sehun ikut meleraikan.

Jinsung Ssaem menghela napas, Muridnya yang bernama Jongin itu memang tidak bisa di lawan. Biarpun kelakuannya seenaknya sendiri anak itu sangat pintar. Nilainya selelu mendekati sempurna di setiap mata pelajaran. Anak itu sangat di harapkan untul menaikan derajat sekolah ini.

Jinsung Ssaem pun mulai membuka buku “Yasudah, mari kita mulai pelajaran hari ini.”

***

“Sudah siap mengelilingi sekolah Hyeri-ssi?” ucap Sehun sambil berdiri dan merapikan blazer sekolahnya.

Hyeri mendongakan kepala “Sebenarnya kemarin aku sudah mengelilingi sekolah, jadi kau tidak perlu repot mengantarkan aku lagi”

“Oh begitu rupanya, kalau begitu mau ke kantin bersama?”

Kali ini Hyeri mengangguk. Mereka pun keluar kelas dan pergi ke kantin bersama. Hyeri sebenarnya belum benar-benar memutari sekolah ini. Hanya saja dengan seiring berjalannya waktu Hyeri pasti akan tahu sendiri letak-letak kelas yang akan dia gunakan.

“Sehun-ssi…”

“Hyeri-ssi, kau tidak perlu memanggilku secara formal begitu. Bukankah kita satu angkatan?” Sehun memotong pembicaraan.

Hyeri menoleh ke arah Sehun dan mengangguk-anggukan kepala. “Kalau begitu kau juga tidak perlu memanggilku Hyeri-ssi. Cukup Hyeri saja bagaimana?”

“Ok, Hyeri-ya kau juga cukup panggil aku Sehun atau Sehunnie. Itu nama panggilanku” terangnya.

Ditengah perjalanan, mereka berdua dihadang beberapa murid perempuan yang datang berbondong-bondong. Sehun kembali memamerkan senyum andalannya.

“Sehunnie, ini ada cookies buatmu”, “Sehunnie cobalah ini. Semoga kau suka” dan sebagainya. Membuat Hyeri mengutup mulu dan mengulum senyum. Namun, ketika mereka pergi, tawa Hyeri meledak.

“Ya, Hyeri-ya, kenapa ketawa seperti itu?” tanya Sehun di tengah kebingungannya.

“Ah, kau ini apa? Boys over flower? Kenapa banyak sekali yang memberimu bingkisan hahaha” Hyeri balik bertanya di sela tawanya

“Kau tak tahu aku ini cukup terkenal? Tidakkah kau lihat aku ini sangat tampan? F4 yang di TV itu saja kalah tampan” balas Sehun

“Tampan? Kau ini percaya diri juga ternyata. Apakah mereka tidak salah melihatmu ya?” hyeri mendelikan matanya.

“Mollayo, yang penting dengan begini aku bisa menghemat uang jajan. Kau mau? Sehun mencibir sambil menyodorkan cupcake ke arah Hyeri.

Hyeri mengambil cupcake itu dan mulai mencicipinya “Hm, mashita! Kamsahamnida Sehunnie”

“Cheonmaneyo, kau mau minum apa?” tanya Sehun sambil melihat-lihat menu di depannya. Hyeri melongokan kepalanya ikut melihat.

“Aku ice chocolate, kau?”

“Hm, lemon tea saja. Ajumma, minta ice chocolate satu dan lemon tea satu ya.”

“Ne, ditunggu ya. Ice chocolate 1.700 won dan lemon tea 1000 won. Totalnya 2.700 won” Sahut Ajumma itu.

Hyeri baru saja akan menyerahkan uangnya tapi Sehun sudah membayar minumannya dan membawa menuju bangku kosong di sudut ruangan.

“Sehun-a, igo..” Hyeri menyerahkan uang untuk mebayar minumannya tapi Sehun repot menengok pun tidak. Dia malah asik menyeruput lemon teanya sambil memakan chocolate yang diberikan sunbaenya tadi.

Hyeri mencibir sambil terus memaksa Sehun mengambil uangnya “Sehun-a, aku tidak ingin berhutang”

Sehun melirik Hyeri ‘Ini saatnya’ batinnya.

“Kau tak mau berhutang padaku?” Sehun memincingkan matanya jenaka sambil memainkan sedotan di hadapannya.

Hyeri menatap Sehun mantap lalu menanggukan kepalanya. Tiba-tiba Sehun mencondongkan badannya ke arah Hyeri dan menatapnya di manik mata sambil mengulum senyum. Hyeri menyipitkan matanya. Takut akan terjadi suatu hal yang tidak mengenakan.

“Kau harus berkencan denganku,” bisik Sehun.

Hyeri melongo, “MWO?!”

Teriakan Hyeri mengagetkan Sehun sekaligus membuat mereka di lihat oleh seluruh orang yang ada di kantin.

Sehun salah tingkah lalu membekap mulut Hyeri dan menariknya halus “Ya! kecilkan suaramu sedikit. Aku kan hanya mengajakmu kencan”. Hyeri menepis tangan Sehun dari mulutnya dan tertawa. “Kau pikir aku mau kencan denganmu? Ya, Sehun-a, turunkan sedikit kadar percaya dirimu”

Sehun menghela napas dan memasang wajah cemberut “Ah, padahal minggu depan kalau masuk ke Lotte World berpasangan mendapatkan discount khusus. Lumayan kan”

Hyeri mengerutkan keningnya “Discount khusus? Boleh juga. Lagian aku belum sempat kemana-mana selama di Korea”

Mata Sehun menatap Hyeri dengan binar-binar yang terlihat jelas, “Jinjjayo? kau mau kencan denganku? Yakso?”

“Ini bukan kencan Sehun-a. Kita hanya jalan-jalan biasa. Tidak ada yang spesial” balas Hyeri sambil berjalan keluar dari kantin. Sehun membuntutinya dari belakang sambil terus mengoceh.

“Yang penting kau mau jalan keluar denganku. Bukankah ini namanya date juga?”

Hyeri yang mendengar itu hanya bisa tertawa sambil berlalu.

***
Ini akibat dari ke-sok-tahuannya. Hyeri seharusnya sudah masuk kelas musik sejak 10 menit yang lalu. Tapi karena dia ke toilet, dia jadi ketinggalan. Murid yang lain sudah moving class terlebih dahulu begitu juga Sehun. Seharusnya tadi dia menerima tawaran Sehun untuk menunggunya.
Koridor sekolah sudah sepi. Ya jelas, pelajaran sudah dimulai dari beberapa menit yang lalu tapi sampai sekarang Hyeri masih kebingungan mencari papan bertuliskan ruang laboratorium biologi.

‘Mungkin aku sebaiknya kembali ke kelas’ pikirnya.

Sesampainya di kelas, Hyeri melihat seseorang yang pastinya sekelas dengannya. Jongin.

“Jongin-ssi?” dengan sedikit ragu Hyeri memanggil Jongin.

Yang di panggil menoleh lalu mengerutkan keningnya sedikit dan kembali sibuk dengan tasnya, “Ada apa?” balasnya. Hyeri mendengus jengkel.

“Bukankah tidak sopan jika tidak menghadap lawan bicaramu?”

“Kau tinggal katakan apa maumu, susah sekali,” Jongin tetap tidak berbalik.

Hyeri menyerah, “Ruang musik. Dimana ruang musiknya? Aku tidak bisa menemukannya”

Jongin berbalik dan berjalan mendahului Hyeri. Hyeri menghela napas dengan sedikit berlebihan. Menerpa poninya yang tertata rapi.

‘Aish orang ini, tak kusangka kelakuannya buruk sekali’

“Ya! Aku ini…” belum sempat Hyeri menyelesaikan kata-katanya, Jongin sudah menyela “ikuti aku”
Dan Hyeri pun lekas mengikuti Jongin. Langkah kaki Jongin sangat cepat sampai-sampai untuk mengikutinya saja susah.

‘Hhh, tenyata di lantai dua. Pantas saja aku cari tidak ketemu’ dengus Hyeri.

Sesampainya di kelas Hyeri segera mencari tempat duduk di sebelah Sehun, tapi ternyata bangku itu sudah diisi. Hyeri memutar kepala. Jongin. Hanya bangku disebelah dia yang belum terisi.
“Hyeri-ssi? Kau anak baru itu kan? Ayo cepat duduk, saya akan mulai membagikan tugas kelompoknya” perintah Bong Sun. Guru musik Hyeri.

“Kelompok? Kelompok apa ssaem?” tanya Hyeri bingung.

“Ah kau baru datang ya. Kau sekelompok dengan Kai. Bekerja samalah dengan baik ya.
Hyeri makin bingung, “Kai? Maaf ssaem Kai itu yang mana ya? Aku belum sempat berkenalan dengan yang lain”

“Itu yang duduk di belakang, kau tadi masuk ke kelas ini bersamaan dengannya kan? Kukira kalian sudah saling berkenalan”

Hyeri melongo ‘Jongin-ssi adalah Kai? Ah, perkenalan yang tidak baik’

Hyeri menundukan kepalannya dan berjalan menuju meja Jongin atau lebih tepatnya Kai.
‘Mohon kerja samanya, maaf tadi aku sedikit kasar’ bisik Hyeri. Tapi Kai sama sekali tidak bergeming. Dia terus menatap ke depan. Hyeri seketika pasrah dengan nilai musiknya. Akan sangat susah jika ia sekelompok dengan orang cuek seperti Kai.

‘Padahal aku suka pelajaran musik’ batinnya

“Perlu kalian tahu, pelajaran musik kali ini tidak hanya harus menyanyi. Kalian boleh berduet memainkan alat musik, atau menari bersama. Terserah kalian, tentukan dari sekarang. Penilaian akan di ambil 1 bulan lagi dari sekarang” jelas Bong Sun ssaem. Kelas pun mulai ribut. Tapi, Hyeri dan Kai masih tetap membisu satu sama lain.

“Ssaem, kalau yang satu memainkan alat musik dan yang satunya bernyanyi boleh?” tanya salah satu murid perempuan. Teman sekelompok Sehun.

“Boleh saja, tidak ada masalah” jawab guru musik itu, “Berdiskusilah dengan tenang anak-anak” lanjutnya

Hyeri melirik Kai dan memberanikan diri membuka percakapan.

“Jongin-ssi…”

“Panggil aku Kai. Aku kurang suka dipanggil Jongin”

“Oke Kai-ssi. Kita akan melakukan apa?”

“Terserah kau” balasnya acuh

“Tidak bisa begitu, harus kita pikirkan bersama”

“Aku suka bernyanyi, kalau kau?”

Hyeri menghela napas lega ketika mendengar perkataan Kai yang mulai melunak.

‘bukankah begini lebih baik?’ ujarnya dalam hati

“Aku juga suka bernyanyi, baiklah sudah di tetapkan kita akan bernyanyi!” tandas Hyeri

“Aku belum bilang mau bernyanyi kan? Kenapa mengambil keputusan sendiri?” Kai membetulkan tempat duduknya. Mulai menghadap Hyeri dan menatapnya dengan tatapan tajam.

“Tadi kau bilang, kau suka bernyanyi?” kata Hyeri sambil memiringkan kepalanya.

“Suka bukan berarti mau kan?” kali ini Kai menyenderkan sikunya di meja dan bertopang dagu. Hyeri makin bingung, terdiam, lalu menundukan kepalanya. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa.

Kemudian terjadi keheningan panjang. Hyeri tidak suka suasana canggung ini. Kai masih terus memperhatikannya. Perlahan senyumnya mengembang.

“Hey, aku hanya bercanda. Ayo kita bernyanyi” kata Kai disertai senyum dikulum dan alisnya yang terangkat satu. Hyeri mengangkat mukanya yang merah.

‘Jadi dia hanya mengodaku? Aish dia ini punya berapa kepribadian sebenarnya, hah?’

“Ya! Seriuslah sedikit. Bercandamu menyeramkan. Aku dari tadi sudah takut salah bicara tapi ternyata kau malah mengodaku” Hyeri mendorong Kai pelan.

Kai tertawa, membuat Hyeri menatapnya lekat lekat. Kai yang menyadari itu langsung berhenti tertawa.

“Mwo? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Kai

“Aniyo, Tidak apa-apa, hanya saja kau lebih bagus ketika tertawa. Lebih….hidup?” jawab Hyeri seadanya lalu mengambil notenya dan menulis sesuatu. Tanpa menyadari perubahan warna di muka Kai.

“Lagu apa yang bagus dinyanyikan berdua ya? Ada saran?” tanya Hyeri sambil terus menulis.
Kai menggaruk tengkuknya, berusaha memikirkan lagu-lagu duet. Tapi dia tidak mendapatkannya satu pun. Otaknya buntu gara-gara perkataan Hyeri.

Kringggg….

Kai langsung bergegas keluar kelas. Hyeri hanya bisa menghela napas melihat kelakuan patner barunya itu.

Kai dan Hyeri sama sekali tidak mengetahui kalau Sehun sedang menatap mereka tajam dan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Hyeri, “Hyeri-ya, kau akan menampilkan apa untuk tugas ini?”

“Aku dan Kai akan bernyanyi. Kau sendiri?”

“Entahlah, belum diputuskan. Kau bisa bernyanyi?”

“Jangan meremehkanku Sehun-a. Kau bisa jatuh cinta padaku seketika jika mendengar suara emasku” canda Hyeri.

‘Tanpa mendengarkan kau bernyanyi pun aku mungkin sudah jatuh cinta padamu, Hyeri-ya’ kata Sehun dalam hati.

“Aih, sekarang kenapa kau yang terlalu percaya diri?”

“Hahaha, entahlah mungkin tertular denganmu. Ayo kita pindah kelas” ajak Hyeri

Tapi sebelum Hyeri keluar kelas, Sehun mencegatnya, membuat Hyeri kaget dan mundur ke belakang.

“Kau ini…”

“Hyeri-ya, kita jadi berkencan sabtu ini kan?” potong Sehun.

“Ini bukan kencan Sehun-a, kita bertemu di Stasiun Jamsil jam 10, oke?” balas Hyeri sambil menepuk-nepuk bahu Sehun.

“Kau tidak mau kujemput saja?” tanya Sehun.

“Tidak usah, kita ketemuan saja, ok?”

“Ok, jam sepuluh di stasiun Jamsil. Jangan terlambat!”

“Ya ya Arraseo. Jam sepuluh si Stasiun Jamsil kan? Sampai ketemu”

“Sampai ketemu”

To be continue~~

Congratulation IVY!

Kali ini aku gak share fanfiction dulu yaa. Sebenernya udah selesai tapi masih banyak yang perlu di tambal sana-sini jadi harus di edit ulang. Cerita kali ini masih tentang aku sama Dina (bosen gak sih denger nama dia mulu? Hufff) yang ikutan lomba kpop dance cover dari Etude House. Syaratnya gampang, kita cuma disuruh videoin tariannya terus di upload ke youtube dan kirim link youtubenya ke salah satu e-mail. Nah, kita tuh iseng ikutan beginian. Jadilah kita bikin video di………………………..atas gedung ITC BSD. Iya, disana. Sumpah rasanya tuh malu banget banget.

Selesai bikin video yang memakan waktu 2 jam, dengan baiknya Dina mau ngeditin. Dan hasil akhirnya jadi lumayan! Dance aku yang aneh jadi agak tertutupi. Walau kata mami sama dede masih kaku sih. Iyalah siapa yang gak kaku kalau dance sambil diliatin abang abang itc?!?!?!

Kita tuh bener-bener Videonya tanggal 5 (batas akhir pengumpulan Video) dan pengumumannya besoknya-_- dan ternyata yang ikut ada 137 grup. Aku sih gak mengharap banyak. Tapi…….

20120607-061213.jpg

Kyaaaaa, aku sama Dina lolos audisi tahap awal! Ya ampun gak nyangka banget karenankita gak prepare sama sekali. Huahahaha, terharu banget dari beribu-ribu kuis atau lomba yang aku ikutin, cuma ini doang yang membuahkan hasil. Ya masih ada 2 tahap lagi sebenernya. Kita masih harus audisi on stage terus kalau yang itu lolos juga baru deh masuk grand final. Kalau udah sampe sini kita harus berusaha sampe akhir! Go IVY! Go Thessa! Go Dina! Aza aza Fighting!

(videonya gak aku tampilin disini karena….malu banget brooo! Akunya udah kayak orang ayan lagi nari tapi doain kita yaaa huehehehehe)